ISBEST 2018

 

Jakarta, 5 Desember 2018 - Perkembangan teknologi dalam mendukung industri 4.0 berdampak besar bagi sektor bisnis, ekspektasi pelanggan, peningkatan produk, dan inovasi kolaboratif. Hal ini menimbulkan distrupsi inovasi yang membuat pasar dan nilai jaringan baru. Oleh karena itu, perlunya kolaborasi baru dalam inovasi dan distrupsi di berbagai sektor, salah satunya ekonomi kemasyarakatan untuk menguji kembali cara berbisnis dan berinovasi secara berkelanjutan.

 

Universitas Terbuka (UT) melalui Fakultas Ekonomi (FE-UT) menggelar The International Seminar on Business, Economics, Social Science and Technology (ISBEST) 2018 bertajuk "Collaborative Innovation of Economic Society in the Era of the Fourth Industrial Revolution (Industry 4.0)" di Century Park Hotel Jakarta Indonesia. Ketua Panitia ISBEST, Amalia Kusuma Wardani, S.E., M.Com., Ph.D. dalam sambutannya mengharapkan bahwa melalui seminar ini dapat membuka diskusi yang konstruktif serta diharapkan dapat menjadi sarana bertukar pikiran dalam menghadapi era 4.0.

 

Acara yang dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM serta Direktur Politeknik Keuangan Negara-STAN Rahmadi Murwanto, Ak., M.Acc., Ph.D ini melibatkan 150 pemakalah dari akademisi, peneliti, praktisi dan mahasiswa pada bidang ekonomi, akuntansi dan manajemen, serta berbagai displin ilmu terkait e-learning, informasi, komunikasi dan teknologi, dan ilmu sosial lainnya. Selanjutnya dalam diskusi panel, peserta memiliki kesempatan untuk mempresentasikan dan berdiskusi terkait penelitian yang telah dilakukan, serta dapat menerima umpan balik dari peserta lainnya.

 

Seminar ini secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Terbuka yang diwakili Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Drs. Moh. Muzammil, M.M bersama dengan Dekan FE-UT Dr. Ali Muktiyanto. Moh. Muzammil dalam sambutannya, menyampaikan bahwa Industri 4.0 memberikan dampak besar dalam perkembangan teknologi, dibutuhkan inovasi pada teknologi baru yang dapat memberikan perubahan bagi produk dan jasa serta meningkatkan nilai dari suatu produk. Sementara itu, Direktur Rahmadi Murwanto memaparkan sedikit penjelasan mengenai strategi dalam menghadapi industri 4.0, ia menjelaskan bahwa kita perlu memiliki kemampuan dalam mengadopsi, mengkolaborasi,dan berkompetisi dalam mengembangkan inovasi.

 

Deputi Kemenko Perekonomian RI Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM mengingatkan bahwa masyarakat perlu memanfaatkan teknologi digital dengan lebih bijak agar dapat mengambil kesempatan dengan baik untuk meningkatkan kapasitas diri dan berinovasi. Ia juga mengajak para peserta untuk berperan aktif mendorong ekonomi dan daya saing bangsa.

 

Acara ini melibatkan tiga pembicara dalam diskusi panel dari berbagai disiplin ilmu terkait yaitu Prof. David Holloway, B.Com., M.B.A., Ph.D Emeritus Professor dari the School of Management and Governance, Murdoch University, Australia, Prof. Zahirul Hoque, B.Com., M.Com., Ph.D., FDMA, FCPA. Professor dari Business School La Trobe University, Australia, dan Prof. Dr. M. Niaz Asadullah, D.Phil., FRSA Professor dari Development Economics in the Faculty of Economics and Business Administration University of Malaya, Malaysia.